Jumat, 15 Desember 2017

PROBLEM SOLVING

Banyak masalah bisa terselesaikan apabila kita lebih banyak sharing KEPADA satu sama lain daripada TENTANG satu sama lain. Sering banget orang punya masalah ga diomongin ke orangnya, malah di omongin ke orang lain yang jelas-jelas tidak mau tau masalah kita, apalagi ga bersangkutan sama masalah kita. Ironis ya. Sering banget saya alami, bahkan mungkin masih saya alami. Ga bisa mangkir sih, pemikiran manusia emang ga bisa kita atur seenak jidat, sesuka hati kita. Karena manusia udah tercipta dengan ragam isi pikiran dan karakternya masing-masing. Isi pikiranmu mencerminkan karaktermu. Kadang orang diam belum tentu gak banyak tau, orang banyak omong belum tentu beneran tau. Tapi ada juga yang diem-diem tapi sok tau. Dan lebih parahnya lagi udah diem, sekalinya ngomong sok tau, dan di omonginnya ke orang lain pula. Clear gak? Menurut aku sih gak ya, malah nambah masalah baru karena kita harus berhadapan sama ‘orang lain’ yang tau tadi. Dan secara gak langsung kita ngasi info cuma-cuma ke mereka tentang permasalahan kita.
Kalo punya masalah sama pacar, ya di selesaiin sama pacarnya.
Punya masalah sama istri/suami, ya di selesaiin sama istri/suaminya.
Punya masalah sama temen, ya di selesaiin sama temennya.
Punya masalah sama orangtua, ya di selesaiin sama orangtuanya.
Jangan sampai karena masalah satu yang sebenernya bisa di selesaikan berdua, jadi merembet jadi bertiga, berempat, berenam, bersepuluh. Mencoba berdalih padahal mencari kubu pelindung.
Manusia itu hidup saling mempengaruhi. Antara kita MEMPENGARUHI atau DIPENGARUHI. Berhati-hatilah kamu memberikan dirimu untuk dipengaruhi. Orang yang baik hanya mengharapkan hal-hal baik untuk orang lain. Kamu harus tau identitas dirimu dulu, kenali dulu siapa diri kamu. Supaya kamu gak hidup dalam kekhawatiran orang lain. Dan kamu mudah menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan identitasmu.
Ceritakan apa yang layak kamu ceritakan kepada orang yang benar-benar layak untuk mendengar ceritamu. Siapa? Pemeran utama dalam permasalahan itu pastinya. Itu penting. Bagaimana mungkin suatu permasalahan bisa di selesaikan dengan perantara? Sementara salah satu pemeran utamanya ga tau jika ada yang salah. Apalagi dalam suatu hubungan (Suami/Istri atau Pacaran). Bakal banyak kesalahpahaman yang terjadi, dan jangan salahkan keadaan kalo bakal ada perpisahan. Dampak salah paham itu pedih lho.
Kuncinya apa? Saling terbuka. Jangan baper (ini buat yang kebanyakan nonton drama). Jangan melulu menuntut. Jangan bawa masalah ke status medsos. Harus dewasa. Itu penting.
Jadi, biasakan terbuka pada orang yang tepat bukan mengadu pada orang yang bukan semestinya. Membangun kebiasaan berarti membangun mindset. Happy Saturday... 

IKHLAS

Ikhlas...
Ikhlas adalah salah satu pernyataan iman bahwa kamu percaya rencana Tuhan lebih besar daripada apa yang kamu hadapi. Kamu percaya bahwa yang Tuhanmu beri itu lebih baik dari apa yang kamu inginkan. Kamu menerima semua skenario Tuhan dan menjalaninya dengan penuh kesanggupan. Ikhlas itu maknanya luas, tergantung bagaimana dan apa yang kamu sikapi..
Ikhlas itu sebenarnya mudah, asal mau menerima aja. Kalau ga bisa nerima, ya ga ikhlas namanya. Ikhlas itu ga bisa kita minta, kita suruh, apalagi request. Ikhlas itu masalah pribadi yang ga bisa di paksain. Kalau di paksa ya jelas ga ikhlas namanya. Hahahaaa...
Apakah ikhlas itu penting dalam kehidupan kita? Tentu.
Sepenting apa? Sepenting kau yang saat ini tak bisa hidup tanpa gadgetmu.
Apa untungnya jadi orang ikhlas? Hanya kamu yang bisa menjawabnya. Ini masalah personal, dan cuma kalian dan hati kecil kalian yang tau seberapa untung yang kalian dapat dari ikhlas itu.
Lalu, kalau mau menjadi orang yang ikhlas bagaimana caranya?
Ibaratnya begini, kalian pasti pernah buang air besar dan kecil kan??? Pasti sering lah, kalau jawabannya ga pernah, mohon segera periksakan ke dokter. Heheheee... Sesudah kalian buang air kecil dan besar, apakah kalian akan mengingatnya dan tidak rela membuangnya? Membuat kalian kepikiran sehingga kalian mencari-cari? Pasti enggak lah ya. Ngapain di inget-inget. Ngapain di cari-cari. Itukan kotor, pasti seperti itu pikiran kalian. Ya, seperti itu lah ikhlas, gak di inget, ga di cari. Tapi di relakan. Anggap saja seperti kotoran yang memang harus kalian buang, jadi kalian ga perlu mengingat, mencari, apalagi sampe kebawa mimpi. Saya dapat teori ini saat masih kelas 5 SD saat mata pelajaran Agama Islam, dan masih saya ingat sampai sekarang.
Ikhlas itu bukan berarti melupakan, tapi menerima bahwa memang semua yang kita miliki hakikat sebenarnya bukanlah milik kita. Dari benda mati sampai benda hidup, dari makhluk mati sampai makhluk hidup, itu milik Tuhan. Kapanpun, dimanapun, Tuhan berhak mengambilnya.
Ada teori lain lagi dari kehidupan sehari-hari yang saya temui. Pasti tau tukang parkir lah ya. Nah, saat kalian pergi ke suatu tempat (pasar misalnya) dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun empat, dan di tempat tersebut hanya bisa di lalui oleh pejalan kaki. Sehingga mengharuskan kalian menitipkan kendaraan yang kalian pakai. Kalian pasti menyerahkan kendaraan kalian pada tukang parkir yang ada disana tanpa kalian beri kuncinya. Kalian mempercayakan tukang parkir tersebut untuk menjaga kendaraan kalian hingga kalian selesai. Saat kalian selesai, kalian mengambil kembali kendaraan kalian dari tukang parkir itu dan pergi meninggalkan tempat itu beserta tukang parkirnya dengan memberinya sejumlah uang. Anggapannya begini, kalian adalah PEMILIK, dan tukang parkir adalah orang yang DI TITIPKAN. Saat kalian mengambil apa yang kalian miliki, apakah tukang parkir tersebut tidak merelakannya? Apakah tukang parkir tersebut menghalangi kalian yang akan mengambil kendaraan kalian? Apakah tukang parkir tersebut memarahi kalian yang akan pulang? Tentu tidak. Kenapa? Karena itu milikmu, bukan miliknya. Dia hanya di titipkan dan di percayakan. Sama halnya seperti apa yang kita punya saat ini. Semua adalah milik Tuhan.
Yang kita pakai, milik Tuhan.
Yang kita sentuh, milik Tuhan.
Yang kita lihat, milik Tuhan.
Yang kita rasakan, milik Tuhan.
Yang kita dengar, milik Tuhan.
Yang kita injak, milik Tuhan.
Bakat kita, milik Tuhan.
Kepintaran kita, milik Tuhan.
Kesehatan kita, milik Tuhan.
Pekerjaan kita, milik Tuhan.
Gaji kita, milik Tuhan.
Lalu, apa yang kita mililki kalau semuanya milik Tuhan? Hanya AMAL IBADAH yang kita punya dan benar-benar hakiki milik kita. Itulah satu-satunya yang kita punya tanpa pernah Tuhan ambil dari kehidupan kita.
Kalian mengambil kendaraan kalian dari tukang parkir dan menggantinya dengan uang. Sama-sama menguntungkan kok. Tuhan juga begitu. Handphone kamu hilang, sudah di cari kemana-mana tapi ga ketemu. Dan kamu memilih pasrah. Awalnya mungkin ga rela, lama-kelamaan kamu menyadari, mau diapain lagi kan udah hilang! Selang beberapa minggu, kamu ikut event jalan sehat, dan kamu menangin door prize dengan hadiah handphone merk bergengsi dan mahal yang saat itu sangat di idamkan orang-orang, sementara kamu memilikinya dengan cara yang sangat mudah. Tuhan menggantinya dengan yang lebih baik bukan?
Tuhan mengambil, Tuhan juga menggantinya dengan yang lebih baik. Adil kan!
Itu ikhlas dari sisi kepemilikan. Bagaimana ikhlas dari sisi kita yang memberi?
Guru SD saya pernah bilang begini. Saat kita memberi, tangan kanan kedepan dengan posisi punggung tangan di atas, tangan kiri di belakang punggung. Maksudnya begini, saat kalian memberi sesuatu pada orang lain, tangan kiri tidak boleh tau apa yang di keluarkan oleh tangan kanan. Jangan biarkan saat tangan kanan memberi, ada tangan kiri yang sejajar dengan tangan kanan dengan posisi telapak tangan di atas , yang artinya meminta.
Lalu ikhlas dalam menerima kenyataan gimana?
Itu lain manusia, pasti lain persepsinya. Ga ada yang bisa menjamin seseorang itu beneran ikhlas apa pura-pura ikhlas. Di mulut bilang ikhlas, di hati??? Siapa tau...
Ga usah ngomogin keikhlasan orang lain deh, diri sendiri aja. Kalo saya pribadi, ikhlas menerima kenyataan itu berarti berdamai dengan hati dan diri sendiri.
Ikhlas datangnya dari mana? Dari hati kan. Ga ikhlas juga datangnya dari hati. Damaikan dulu hati kita sama kenyataan yang ada di depan kita baru kita bisa merasakan keikhlasan. Semua akan berjalan menuju titik terbaiknya jika hati kita damai dengan diri kita sendiri. Semakin kita ngotot, Tuhan akan kasi kita kekosongan dari apa yang kita hadapi. Tapi saat hati kita damai, selalu ada peluang untuk menemukan jawaban dan kita akan TERCENGANG melihat kenyataan yang sebenarnya. Malah akan ada rahasia yang terkuak dan membawa kita pada jalan keluar. Ada satu kata-kata yang sangat saya suka, saya lupa itu hadist apa quotes ya... Hehehe
Tulisannya begini
“Ikhlas itu seperti surat Al-Ikhlas. Yang tidak ada kalimat ‘ikhlas’ di dalamnya. Ikhlas tidak berwujud, tidak terucap. Hanya mereka yang benar-benar ikhlas, yang berbuat tanpa menyebut keikhlasannya.”

Jumat, 24 November 2017

Pilihan, Karakter, Kedewasaan...

Mengapa memilih pasangan hidup yang tepat itu penting?
Jawabannya, karena seumur hidup itu lama. Karena jadi pasangan suami istri dan orangtua itu perlu dua orang yang dewasa. Karena kalau salah pilih orang ga bisa di tuker tambah. Perlu dua orang dewasa, karena membina rumah tangga itu harus bisa mengalahkan kesenangan pribadi demi kebahagiaan bersama. Yang gak membesar-besarkan masalah dan menyelesaikannya berdua, bukan mengaitkan pihak lain yang belum tentu terkait sama masalah kita. Yang menganggap kerukunan dalam berumah tangga lebih penting daripada menang sendiri. Dan ini untuk seumur hidup, bukan seminggu atau sebulan. Mau punya pasangan yang kelakuannya masih anak-anak? Kita bakal jadi orangtua lho, jadi teladan bagi anak-anak kita nanti. Kalo pasangan kita modelnya sama kaya anak kita, bakal ada banyak orang yang sikapnya kayak dia di rumah kita. Kalo belum nemu yang baik, dewasa, bisa di percaya, setia, respect, komitmen, peduli sama hubungan kalian, mending jomblo aja dulu deh. Hehehe
Perhatikan karakter dirinya. Karena pada akhirnya yang kita nikahi adalah karakter kesehariannya. SIFAT. POLA PIKIR. RESPON. REAKSI SPONTAN. SIKAP. WATAK. Karakternya cocok gak buat di jadiin teman hidup seumur hidup? DEWASA gak? Waktu dia marah bisa di kontrol gak? Waktu kamu memarahinya dia seperti apa? Mau menerima penjelasan gak? Kalau khawatir, dia mencarimu dengan bertanya atau memarahimu? Gimana perlakuan ke kamu dan keluargamu? Bisa di ajak kompromi gak? Komitmennya bisa di pertanggung jawabkan gak? Mau minta maaf dan memaafkan gak? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang mondar mandir di pikiran.
Nah, kalo kriteria yang kamu mau seperti itu. Waktunya introspeksi diri. Yang kriteria karakter kayak gitu mau gak sama kamu? Nuntut mah enak ya, padahal kalo di tuntut juga ngedumel dalam hati. Hahaha. Mau yang rajin ibadah, ibadah kita gimana? Mau yang gesit ngerjain kerjaan rumah, kerjaan rumah kita gimana? Mau yang pekerja keras, kitanya gimana? Inget kan kalo jodoh itu cerminan diri kita...
Kebanyakan orang menarik kualitas yang sama dengan dirinya.
Apa yang kamu lihat ya itu yang kamu dapat. Makanya kalo mau liat-liat jangan buru-buru. Takutnya belum keliatan semua. Jangan cuma ngeliat dia mukanya cakep, tinggi, mulus, ngehits, bergelar, dan lain-lain. Adakah jaminan fisik bisa membuat pernikahanmu berjalan baik? Jangan juga merem jadi gak bisa liat apa-apa, padahal udah jelas banget. Buka mata lebar-lebar dalam menentukan pasangan sebelum menikah akan menyelamatkan kamu dari banyaknya drama yang sebenarnya gak perlu. Kalo masih belum nikah sih masih bisa di tuker tambah. Tapi kalo udah tau dia begini begitu tapi tetep ngotot maunya sama dia ya jangan banyak ngemeng, nanti ngeluh kesana sini, cerita kejelekannya kesana sini, nyeselin pilihan yang udah di ambil sendiri. Soalnya paketnya emang harus di ambil semuanya sama sampah-sampahnya juga. Uuppss...
Kalo kamu udah punya kualitas diri yang baik, tinggal MELEK buat milih yang akan kamu nikahi, jangan MEREM. Apalagi pura-pura merem. Soalnya kalo kamunya udah bagus tapi milih yang gak bagus, mau nyalahin siapa? Mau ngorbanin seumur hidup kamu?
Pernikahan hanya untuk orang yang dewasa. Bukan usianya ya, tapi mentalnya. Usia ga menjamin seseorang dewasa. Pernah denger kan kalimat TUA ITU PASTI, DEWASA ITU PILIHAN? Banyak orang menikah karena kepentok umur. Gengsi, malu kalau umur segini belum nikah. Padahal menikah itu ga semudah yang di bayangkan. Cuma orang-orang yang bisa mengesampingkan ego, tidak mementingkan dirinya sendiri dan punya komitmen yang bisa menjalankan pernikahan dengan baik. Karena di dalam pernikahan semua tentang berdua. KITA. And that’s TOUGH.
Kalau masih ada pikiran how about me? What I want? Mending jangan nikah dulu deh. Jangan nikahi orang yang sikapnya belum dewasa. Jangan menikah kalau kamu belum bisa bersikap dewasa (lagi-lagi ngomongin dewasa). Except you want unnecessary dramas.
Kita tidak pernah di larang untuk jatuh cinta pada siapapun. Kita bebas memilih seseorang yang ingin kita cintai. Tapi sayang, kita hanya di beri rasa cinta itu, tidak dengan kuasa. Kita tidak di beri kuasa oleh Tuhan untuk bisa menentukan nanti mau menikah dengan siapa, sebebas kemauan kita. Tuhan sediain banyak pilihan untuk kita. Ketemuin kita sama banyak orang. Terlepas berjodoh atau tidak, percaya saja kalau takdir kita telah tertulis rapi oleh-Nya. Kita hanya akan menikah atas izin dan kehendak Tuhan. Di waktu yang telah Dia tentukan bersama seseorang yang Dia kehendaki.
Yang terpisah, sejauh apapun semesta memisahkan, pasti Tuhan telah mempersiapkan jalan untuk menyatukan. Yang berdekatan, sedekat dan seintens apapun hubungan itu, jika Tuhan menulis takdirmu bukan dengannya, akan ada jalan Tuhan memisahkan dengan ketentuan-Nya. Jangan lupa terus memperbaiki karakter diri supaya dapet pasangan yang bagus juga.

IB : MS (Entertainer), MeMa (Akun inspiratif), Orang-orang inspiratif.

Menikah Itu Ibadah

‘Menikah itu ibadah’. Pasti tau lah ya...
Hampir kebanyakan orang pengen cepet-cepet nikah dengan dalih karena itu adalah ibadah. Sebenernya artinya ga cuma sekedar itu. Pengertian ibadah dalam pernikahan itu luas banget. Saya mencoba membuat kesimpulan pengertian ibadah dalam pernikahan dari beberapa sumber yang pernah saya tanya dan saya baca.
Ibadah dalam pernikahan artinya keserupaan. Yaitu serupa dengan Tuhan. Kalau kita menjalankan pernikahan dengan caranya Tuhan, maka pernikahan itu adalah ibadah. Disebut ibadah jika sikap hidup kita dalam pernikahan menyerupai perintah Tuhan kita. Bahkan kalau kita bekerja sebagaimana Tuhan ingin kita bekerja, itu juga ibadah. Menjalankan kewajiban dengan semestinya dan seharusnya. Semakin cara hidup kita serupa dengan yang Tuhan kita inginkan, itulah ibadah sesungguhnya. Bukan hanya di tempat ibadah dan melakukan rutinitas agama saja. Melainkan cara hidup kita yang baik. Itu pun ibadah. Memilih pasangan hidup yang bisa terus mengingatkanmu pada Tuhan, itu juga ibadah. Namanya juga pernikahan. Semua tentang berdua kan. Termasuk urusan ibadah. Jadi, sebelum kamu mengatasnamakan ibadah dalam pernikahanmu, pilihlah dulu pasangan yang akan membawamu pada ibadah tersebut.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang pernikahan. Ada satu lembar dari buku tersebut yang isinya tidak asing di telinga, tetapi memiliki makna tersirat yang sangat mengagumkan, dan saya suka bagian itu. Isinya begini.
Saya terima nikahnya si anu binti si anu dengan mas kawinnya bla bla bla di bayar tunai...
“Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang ia jadikan istri) dari ayah dan ibunya. Dosa apa saja yang telah ia lakukan. Dari tidak menutup aurat hingga meninggalkan shalat. Semua yang berhubungan dengan si dia (perempuan yang ia jadikan istri), aku tanggung dan bukan lagi orangtuanya yang menanggung. Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku. Jika aku gagal, maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku.” (HR. Muslim)
Semoga isi tulisan di atas bisa di pahami ya. Hehehe... Jujur saya merinding pas baca tulisan itu. Karena saya baru tau makna dari kalimat ijab qabul. Speechless.
Buat saya, menikah bukan hanya perkara memiliki keturunan, pasangan yang baik dan setia. Tapi juga tentang bagaimana menerima semua yang berhubungan dengan rumah tangga. Bahkan dalam agama Islam jelas di katakan saat memilih pasangan, yang harus di perhatikan pertama kali adalah agamanya. Karena fondasi rumah tangga yang baik datang dari pemahaman agama yang baik. Penting. Jelas sangat penting. Kalau menikah cuma karena nurutin tren, takut di langkahi adik, takut gak laku, atau gengsi, dari mana kalian memahami apa arti rumah tangga untuk kehidupan kalian? Saya banyak menangkap banyak fenomena pernikahan jaman now. Macem-macem modelnya. Banyak yang mengidam-idamkan dan memimpikan ingin cepat-cepat menikah. Membina rumah tangga tidak segampang menulis teori tentang pernikahan. Prakteknya akan jauh lebih mencengangkan. Dan kita harus siap lahir bathin menerima semua kenyataan.. Seumur hidup lho...!!!
Jadi, ibadah dalam menikah itu harus berjalan setara dalam pernikahanmu. Tidak hanya untuk satu hal. Tapi semua hal yang berhubungan dengan BERDUA.
Have a great Saturday....!!!


IB : MS (Entertainer), Buku tentang pernikahan, dan orang-orang yang menginspirasi.

Best Choice Before Married

Sebelum mengarah pada pernikahan. Yang paling utama yang harus kita perhatikan adalah harus SEIMBANG dulu hubungannya. SAMA-SAMA saling tertarik, saling suka, saling sayang, saling menghargai, sama sama mau bikin hubungan ini berhasil. Baru bisa di harapkan untuk pernikahan yang baik. Tanpa di sadari, banyak orang menjalin hubungan sama orang yang sebenarnya dia ga suka-suka amat (nurutin ego, dipaksa pihak tertentu, kepentok umur, gengsi ga punya pacar,dll). Atau udah tau ngga di hargai, ga di gubris tapi masih di lanjutkan. Terus terang, hubungan kaya gini nih yang cari penyakit. Jangan berharap bertahan lama, kalau awalnya saja udah banyak kesalahan. Jelas-jelas udah kelihatan ngga sehatnya karena perlu DUA PIHAK yang usaha mati-matian untuk sebuah PERNIKAHAN. Kalau cuma satu pihak aja yang mati-matian pasti rasanya mau mati. Kedengerannya lucu kalimatnya, tapi setelah di jalani ga ada lucu-lucunya. Mau nyoba?
Sebelum kamu mencari seperti apa pasangan yang ingin kamu ajak susah seneng bareng. Kamu harus kenal diri kamu sendiri dulu. Banyak orang yang menyepelekan kata kata ini, bahkan nyaris tidak tau. Padahal ada banyak keuntungan saat kita bisa kenal siapa kita. Karena semakin kita kenal dengan diri kita sendiri, akan semakin kita tau apa yang kita mau. Tipe pasagan seperti apa yang kita butuhkan. Apa yang paling penting buat kita dari seorang pasangan. Karakter apa yang kita ga mau tolerir. Hal-hal apa yang kita ga sudi kompromi. Dan kekurangan-kekurangan apa yang mau kita terima. Makin kita melek, makin mudah untuk kita buat keputusan mau lanjut ke pernikahan atau udahan aja cukup sampe disini.
Tapi, lain lagi kalau kita ga kenal diri kita sendiri, ga tau kita maunya apa, atau ga punya gambar diri yang bener (kamu pikir kamu ga cukup bagus atau takut ga ada lagi yang mau sama kamu), akan susah untuk buat keputusan yang bijaksana. Akhirnya setelah di paksain naik pelaminan eh malah jadi penderitaan berkepanjangan. Karena kamu milih tetep ambil apa yang jelas-jelas ga bisa kamu terima. Ga mau kan???
Pernyataan ‘ga ada yang sempurna’ emang bener, setiap orang juga terlahir pasti ada paket plus minusnya. Tapi kita tetep harus tau apa yang penting buat kita. Apa yang kita prioritaskan. Hubungan yang baik itu harus seneng. Kalau baru pacaran aja udah ribet sama drama, bayangin kalau udah nikah. Ngimpi kalau ngarepin orang berubah cuma karena MENIKAH. Kecuali kalau mental kamu bener-bener siap buat nerima semua hal tadi seumur hidup kamu. Karena menikah adalah meninggalkan keluarga inti untuk menghabiskan sisa umur yang kita punya dengan orang yang tepat, bukan yang cepat. Dan setiap harinya dalam pernikahan, kita bisa memilih untuk terus bersyukur atau terus mengeluh.
Coba di evaluasi lagi hubungannya. Kalau rasa saling memperjuangkannya itu sama beratnya baru berharga untuk di perjuangkan ke jenjang berikutnya. Perlu kedewasaan untuk membuat penilaian yang apa adanya. Kalau udah nikah gimana? Kalau udah nikah cuma bisa di ikhlasin, gigit jari, nangisin pilihan sendiri. Kan dulu milih sendiri. Konsekuensinya memang seumur hidup.
Semoga semakin lebih berani memperjuangkan untuk sesuatu yang memang harus di perjuangkan. Lebih berani tegas untuk sesuatu yang memang harus di tegaskan. Dan lebih berani meninggalkan untuk sesuatu yang memang harus di tinggalkan. Sebab, semakin hari akan semakin mengerti, hidup itu tentang mengambil pilihan demi pilihan.


IB : MS (Entertainer), PK.

Minggu, 03 September 2017

I Love You More Than You Know

Aku percaya, tidak ada di dunia ini yang memiliki kisah cinta yang sempurna, bahkan yang di nilai sempurna oleh orang lain pun, pada dasarnya tetap memiliki kekurangan, hanya saja dua cinta yang bekerja di dalamnya tidak memperlihatkan kepada dunia.
Aku, salah satu perempuan yang meyakini, jika kesempurnaan cinta datang pada mereka yang di dalamnya bekerja untuk saling melengkapi, saling menggenapi, saling mengisi. Mungkin itu alasan Tuhan mengapa manusia di ciptakan dalam keadaan lebih dan kurang. Kekuranganku, untuk di lengkapi lebihmu, sedang kekuranganmu, untuk di lengkapi lebihku.
Cinta itu baik, jika selalu terpeluk oleh doa, setia dan saling percaya, dan cela yang ada dalam kisah cinta, akan selesai dengan baik dihadapi bersama, lengkap dengan rasa tanggung-jawab sebagaimana mestinya.
Ketika nanti aku sudah menemukan pendamping hidup, kepadanya aku akan selalu mengingatkan, jika cinta yang hebat lahir dari kesabaran yang kuat. Jika cinta yang bahagia lahir dari susah senang yang di hadapi bersama-sama. Jika cinta yang abadi lahir dari dua hati yang keduanya benar-benar saling mencintai. Dan kamu tidak perlu sempurna, sebab di mataku kamu selalu indah, dan 365 hari yang berulang, itu tidak akan pernah berubah. Berat memang. Sulit, kamu pun tau tahu ini sulit. Tapi satu hal, perjalanan menujumu adalah perjalanan terbaik yang pernah aku tempuh.
Tidak perlu berdebat tentang siapa di antara kita yang lebih mencintai, lebih setia, atau lebih memahami. Sebab, cinta tidak menakar kasih sayang dalam lebih dan kurang. Atas nama cinta, aku dan kamu adalah dua yang saling mencintai, saling setia, dan saling memahami. Kekuranganmu, untuk di lengkapiku. Kekuranganku, untuk di lengkapimu. Keras kepalamu, untuk sabarku. Sabarmu, untuk amarahku. Cinta itu tentang kerja sama, tentang saling menerima. Begitulah caraku menerimamu, menerima semua tentang dirimu. Bahkan hal terburuk di dirimu pun aku terima dengan semua kemampuanku. Tak ada yang aku keluh kesahkan. Bahkan hingga saat ini aku mengenalmu. Sedikitpun tidak ada penyesalan yang tersirat di benakku. Aku harap kau pun demikian padaku.   
Mencintaimu, tidak pernah ada dalam rencana hidupku. Namun, pada suatu hari, dengan alasan yang masih belum kupahami, Tuhan menempatkanmu menjadi bagian terbaik di hati dan ingatanku. Jadi, ketika nanti kamu menanyakan alasan mengapa aku bisa sejatuh ini dalam mencintai kamu, maaf aku tidak bisa menjawabmu, sebab sampai hari inipun, sudah berusaha aku mencarinya, tidak kutemukan jawabannya. Aku hanya berharap, perasaan-perasaan terbaik dan terburukku dalam mencintai kamu, tidak pernah merepotkanmu. Semoga perjalanan-perjalanan sulit ini, menjadi sesuatu yang di hitung baik oleh Tuhan, sebagai bentuk perjuangan. Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin di percaya Tuhan, jika di hatiku, cintamu akan tenang dan aman.


Source : Pena Kecil


Kamis, 15 Juni 2017

Introspeksi Diri

Kita tidak perlu terlalu banyak mengomentari jalan hidup seseorang.
Apalagi jika memang kita tidak dimintai pendapat atau nasehat.
Tentang kenapa dia masih saja sendirian,
tentang kenapa dia menikahi pasangannya yang terlihat tidak sepadan,
tentang dia yang memilih untuk tetap bertahan dijalan yang rumit,
tentang mereka yang memilih berpisah.

Tentang kisah pribadi seseorang, pendidikannya, tentang pekerjaannya, tentang keluarganya atau apapun ujian hidupnya.

Apalah hak kita untuk itu...?
Banyak berkomentar seolah kita yang paling tahu.
Apalagi sampai sengaja membuatnya sebagai bahan obrolan dengan orang lain.
Dan menilai baik buruknya kehidupan mereka.
Boleh jadi kisah seseorang yang terlihat kasihan bagi mata manusia, sebenarnya melimpah kebaikan dimata Allah.
Dan bisa jadi hidup seseorang yang terlihat beruntung bagi mata manusia, sebenarnya tersimpan banyak kekurangan dimata Allah.

Sungguh...
Tidak ada satupun dari diri kita yang paling mengenal lika liku hidup pribadi selain diri kita sendiri yang menjalaninya.
Kita punya alasan bukan?
Alasan yang terkadang bahkan kita sendiri masih sulit untuk memahaminya.
Dan lebih sering kita merasa tidak perlu seluruh dunia tahu alasan tersebut.
Cukup kita dan Tuhan yang Tahu.

Jadi, Tahanlah diri untuk berkomentar yang tidak perlu.
Karena mungkin dari sekian komentar yang tidak dibutuhkan itu, celetukan yang niatnya hanya bercanda (tapi kelewatan) itu, jauh disana, didalam hatinya, dia merasa tersinggung, atau bahkan tanpa sengaja telah meruntuhkan keyakinan, baik sangka atau kepercayaan diri seseorang yang telah susah payah di dia bangun sepanjang hidupnya.

Ya..hanya karena lisan kita yang telah keluar batasannya.
Tidak perlu pula terlalu banyak turut mengatur kehidupan seseorang, terlebih selama dia tidak mengganggu, tidak merugikan atau tidak mengusik hidup kita atau keluarga kita. Karena masing-masing dari kita punya kehidupan sendiri yang masih perlu banyak dibenahi...
Dan semestinya kita juga menyadari bahwa kita pun ingin memiliki ruang pribadi.
Itu saja.

Source : Love Islam